“Tanah gambut dengan kedalaman 14 meter.
Dan 6 – 14 meter diantaranya mengalami penurunan. Itu merupakan hasil
tes Agustus lalu. Jadi secara konstruksi tidak ada masalah. Tetapi
permasalahan di kondisi tanah, dan itu diluar prediksi,” kata Bambang,
kemarin (12/12).
Bambang menjelaskan tahun 2011 proyek
awalnya ditangani oleh Provinsi Bengkulu dengan Satuan Kerja Perangkat
Daerah (SKPD), Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Provinsi Bengkulu.
Adapun pengerjaan yang dilakukan saat itu adalah penimbunan badan jalan.
Seyogyanya juga dilakukan pengaspalan jalan. Namun karena permasalahan
pembebasan lahan, pengaspalan tidak dapat dilakukan.
“Permasalahan waktu itu, pembebasan
lahan. Jadi tidak menyelesaikan keseluruhan. Hanya penimbunan, tidak
pengaspalan. Kalau panjang relokasi 350 meter,” tambah Bambang.
Lalu tahun Juni 2012, pengerjaan
dilanjutkan oleh Satuan Kerja Pelaksana Jalan Nasional Wilayah I. Adapun
yang dikerjakan adalah perbaikan grade untuk memaksimalkan timbunan.
Dan selected atau penimbunan koral menstabilkan atau memperbaiki
timbunan. “Serta base b, pondasi jalan. Sebelum pengaspalan,” kata
Bambang.
Setelah tahun 2012 akhir, pihaknya
memperkirakan tanah tidak mengalami penurunan. Dan saat itu kendaraan
sudah lewat. “Jadi bagian bawah tidak kami diutak utik, karena bukan
kewenangan kita,” tandas Bambang.
Lalu sekitar Mei dan Juni 2013
dilanjutkan dengan pengaspalan dan hotmix jalan. Menurutnya, memang
mulai terlihat ada penurunan bahu jalan, sekitar Juli 2013 atau setelah
selesai dikerjakan.
“Lalu dicek tanah dasarnya, dengan
sondir atau pengambilan sampel tanah. Ternyata di bawah itu diketahui
lahan gambut. Pengecekan pada Agustus,” ungkap Bambang.
Sejak 10 Desember lalu, mobilisasi
eksavator dan vibro sudah dilakukan. Sekarang sudah mulai penimbunan
tanah. “Dengan asumsi cuaca bagus, dalam seminggu sudah bisa dilewati.
Program 2014, akan dilakukan penelitian,” demikian Bambang. (ble)