Senin, 21 April 2014

Senin, April 21, 2014
KETAHUN – Sebelumnya, Rabu (16/4) sebanyak 100 pekerja tambang batu bara PT Injatama di Ketahun, berunjuk rasa di Pemda Bengkulu Utara agar penutupan lokasi tambang dihentikan dan mengancam menduduki rumah pribadi Wabup BU. Kemarin (18/4), giliran PT Injatama-nya di demo pekerja tersebut. Hanya saja jumlahnya lebih sedikit sekitar 49 karyawan.

Pertemuan 10 perwakilan karyawan PT Injatama dengan Wabup BU dan sejumlah kepala SKPD
terkait di aula Pemda Bengkulu Utara, Kamis (16/4) lalu. Pertemuan sempat panas,
lantaran karyawan merasa tak ada keputusan dalam pertemuan itu.

Mereka itu semuanya dari Divisi Shiping atau dikenal bagian pemuatan batu bara ke kapal tongkang. Dalam aksi karyawan itu menuntut agar perusahaan menyelesaikan pembayaran royalty ke Pemda BU. Aksi sempat diwarnai ribut mulut yakni antara Syarkawi karyawan Divisi Shiping dengan Kapala HRD Injatama Harlian Purba.

Ribut mulut terjadi lantaran Syarkawi bersikres mendesak perusahaan membayar kekurangan dan denda Royalti Rp 7,8 miliar ke Pemda Bengkulu Utara, sehingga pengapalan batu bara milik perusahaan tersebut bisa kembali dilakukan, dan karyawan di Divisi Shiping tak menganggur serta memiliki penghasilan tambahan. Syarkawi mendeadline seminggu ini perusahaan harus kembali beroperasi.

Namun, Harlian mengaku tidak bisa memastikan tuntutan Syarkawi. Versi Harlian angka Rp 7,8 miliar ang ditentukan oleh Dirjen Minerba Kementerian ESDM tersebut angka yang terlalu besar. Sedangkan, PT Injatama masih menunggu hasil audit tim Optimalisasi Penerimaan Negara (OPN).
Mendapatkan jawaban tak sesuai dengan harapannya, Syarkawi lantas memaki Herlian hingga harus dibawa rekannya sesama pendemo keluar dari ruangan lantaran dikhawatirkan memancing keributan.
Yevi koordinator aksi mengaku jika karyawan Shiping melakukan demo lantaran semenjak dirumahkan mereka tidak mendapatkan tambahan penghasilan. Sedangkan gaji mereka hanya Rp 1 juta. Biasanya, mereka mendapatkan bonus fee setiap tonase angkutan tongkang yang diterimanya setiap pengapalan batu bara.

“Dengan tidak adanya tongkang yang muat batu bara, mereka hanya dapat gaji Rp 1 juta. Ini mereka nilai tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka,” terang Yevi.Dari pertemuan kemarin, Herlian akan berkoordinasi dengan pimpinan perusahaan untuk mempertimbangkan tuntutan ka

Ancam Duduki Distamben


Disisi lain, dalam minggu depan massa mengancam dari PT Injatama akan menduduki Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) BU. Hal ini sesuai ancaman massa saat mendemo Pemda Rabu (16/4) lalu jika Pemda tak juga mencabut surat penutupan PT Injatama sesuai tuntutan mereka

“Kita tunggu sampai besok (Hari ini,red), jika surat penutupan tidak juga dicabut oleh Pemda, kami akan duduki Distamben sampai kembali dibuka,” ancam Yevi.

Massa tidak hanya akan memminta Distamben untuk berhenti berkantor sementara namun juga menginap di Distamben. Ia memastikan lebih dari 100 massa karyawan akan tinggal di Distamben minggu depan jika Pemda tidak juga memperbolehkan perusahaan itu kembali beraktivitas melakukan penambangan batu bara.

“Kalau tidak dibuka, demo minggu depan kami akan membawa paralatan masak dan tenda. Kami akan duduki Distamben, karena penutupan Injatama pasti karena permintaan Distamben,” tandasnya.(qia)

Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar