ARGA MAKMUR – Antrean
truk di Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Sumatera, tepatnya di Kecamatan
Lais, Bengkulu Utara, semakin panjang. Pantauan RB di lokasi kemarin,
antrean truk mencapai sepanjang 2 kilometer. Baik dari arah Bengkulu –
Mukomuko maupun sebaliknya. Laju kendaraan yang didominasi truk memang
dilarang melintas lantaran pangkal jembatan Lais di Desa Lubuk Lesung
nyaris putus akibat banjir bandang Senin (11/11) lalu.
![]() |
| Antrean panjang kendaraan akibat putusnya jalan lintas barat Bengkulu Utara-Mukomuko.SHANDY/RB |
Pagi kemarin semua kendaraan truk baik
bermuatan atau kosong dilarang melintas. Hal ini lantaran abrasi tanah
bagian bawah badan jalan yang maskin meluas sehingga tidak memungkinkan
untuk digilas kendaraan.
Untuk kendaraan pribadi atau jenis
minibus biasa tetap diperkenankan melintas hanya saja dengan pengaturan
polisi. Maklum, jalur yang bisa dilintasi hanya satu jalur dan tidak
memungkinkan untuk dilintasi dari dua arah sekaligus.
Truk yang mengantre rata-rata truk yang
bermuatan seperti Crude Palm Oil (CPO), Cangkang Kelapa Sawit, Karet
masyarakat dan perusahaan serta Tandan Buah Segar Kelapa Sawit yang
ingin dijual ke perusahaan yang ada di wilayah Bengkulu Tengah
(Benteng).
Truk-truk bermuatan tersebut dipastikan
tidak bisa mengambil alternatif jalan lain seperti melintasi kecamatan
Air Padang melalui Desa Lubuk Lesung dan Gunung Selan. Maklum, untuk
truk bermuatan jalan tersebut dinilai tidak memungkinkan dan justru bisa
terjadi kecelakaan
Bus Pilih Berhenti di Ketahun dan Bengkulu
Sementara itu kemarin tak satupun
bus-bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) yang ikut dalam antrean. Data
terhimpun RB, mereka lebih banyak memilih menunggu informasi dan
berhenti di beberapa rumah makan di wilayah Ketahun.
Panzir warga Ketahun menurutnya kemarin
setidaknya ada 2 Bus tujuan Medan – Bengkulu dan Jambi – Bengkulu yang
terpaksa menginap di beberapa rumah makan di wilayah Ketahun. Hal ini
lantaran mereka sudah mendapatkan informasi dari rekan mereka yang
terjebak dan tidak bisa melintas di jalinbar tersebut.“Sampai saat ini
(Siang kemarin,red) masih ada, mereka tidak bisa kemana-mana, daripada
menunggu di lokasi Lais mereka memilih di Ketahun,” ujar Panzir.
Pengusaha TBS Terancam Merugi
Disisi lain, Wagino pengemudi truk
bermuatan TBS Kelapa Sawit mengaku sejak pukul 04.00 WIB kemarin
mengantre di depan jembatan lais dengan tujuan Taba Penanjung. Akibat
antrean tersebut ia mengaku mengalami kerugian yang tidak sedikit. “Saya
membawa kelapa sawit, dengan mengantre dan TBS yang dijemur itu sudah
berapa saya merugi karena penyusutan. BElum lagi biaya saya selama
mengantre ini,” terangnya.
Ia memilih tidak mengambil lajur
KEcamatan Air Padang dan melalui Desa Gunung selan selain akan ada
penambahan BBM juga kondisi jalan yang tidak memungkinkan.
Dipasang Jembatan Kelapa
Penutupan jalan khusus bagi truk atau
kendaraan yang melebih roda 4 ini dilakukan setidaknya hingga pukul
22.00 WIB kemarin. Masyarakat dan dibantu TNI dan Polri masih berusaha
melakukan pemasangan jembatan yang dibuat dari batang kelapa.
Dinas PU Provinsi kemarin juga
mendatangkan kerangka besi jembatan yang akan dibuat melangkahi lokasi
jalan yang sudah keropos dengan panjang sekitar 2 M tersebut.
Kepala Bidang Bina Marga Dinas PU
Provinsi Bengkulu Buyung Mutahan, ST menerangkan mereka pemasangan besi
kerangkajembatan ini dilakukan sebagai tindakan tanggap darurat dan
bersifat sementara. Pasalnya, diyakini abrasi akan makin melunas
begitupun lokasi jalan yang putus lantaran terus tergerus dengan air
sungai lais.“Penanganan yang kita lakukan bersifat darurat, agar tidak
tertutupnya akses jalinbar BU – Mukomuko atau Bengkulu – Sumbar,” ujar
Buyung.
Dinas PU hanya menyiapkan kerangka
jembatan yang nantinya akan dipasangi lantainya dengan pohon batang
kelapa yang dibuat warga dan TNI/Polri. Ia yakin tengah malam tadi semua
kendaraan bisa melintas meskipun tetap harus berhati-hati. “Yang jelas
kita stabilkan duru arusnya, meskipun satu-persatu kendaraan yang
melintas melintasi jembatan yang jelas semuanya bisa melintas,” ujarnya.
Ia berjanji tahun depan akan
menganggarkan jalan untuk melakukan pembangunan jalan permanan dengan
berkoordinasi dengan Balai Sumatera III Palembang. “Jalan ini jalan
Nasional, makanya pembangunannya akan kita konsultasikan dengan Balai
Sumatera III di Palembang,” pungkas Buyung.
Korban Banjir Tak Dapat Bantuan
Disisi lain, 21 rumah dan 1 Masjid di
Desa Lubuk Lesung dan Jago Bayo yang menjadi korban banjir mengeluh
lantaran tak ada bantuan dari Pemda Bengkulu Utara. Hingga malam kamrin
warga bahkan mengaku belum didatangi oleh Dinas Sosial (Dinsos).
Kades Jago Bayo Izwardi menuturkan ia
sudah melaporkan adanya korban 13 rumah warga dan 1 Masjid yang terendam
akibat banjir tersebut dan mengharapkan adanya bantuan. Setidaknya ada
bantuan makanan atau tempat tidur bagi masyarakat yang tidak bisa lagi
bekerja dan memasak lantaran peralatan rumahnya terendam air.
“Sampai saat ini sama sekali belum ada
bantuan dari Pemda BU atau dari Dinas Sosial. Sedangkn masyarakat
kesulitan untuk memasak, semua barang basah karena banjir yang merupakan
luapan sungai datang tiba-tiba,” ujar Izwardi Kecewa.
Satu-satunya bantuan yang didapatkan
warga adalah mie instan dan air mineral dari Ketua DPRD BU Buyung
Satria, SH yang turun langsung ke lokasi saat malam banjir tejadi.
1.000 Hektare Sawah Terendam
Di bagian lain, tak hanya petani yang
merugi lantaran agal panen dihajar banjir bandang Senin (11/11) lalu
melainkan secara umum Pemda Bengkulu Utara (BU) juga mengalami
dampaknya. Sedikitnya 2.500 ton beras yang seharusnya dihasilkan dari
1.000 Ha lebih sawah 6 desa yang gagal panen digenangi air.
Kadis Pertanian dan Peternakan
(Distanak) BU Ir. Maswandi menerangkan biasanya dalam 1 Ha sawh milik
masyarakat minimal bisa menghasilkan sekitar 5 ton gabag kering giling
atau minimal 2.5 ton beras. Akibat banjir Senin lalu, dipastikan hal
semua hal itu, tak hanya padi yang gagal panen, bahkan lokasi persawahan
warga juga sudah dipenuhi material sungai seperti kayu dan batu.
“Kita sangat prihatin dengan kejadian
ini. ini kejadian terbesar setidaknya 10 tahun terakhir. 2.500 ton beras
kita hilang tahun ini karena bencana kemarin (Senin,red),” terang
Maswandi.
Dengan hilangnya 2.500 ton beras dilanda
banjir Senin lalu dipastikannya Pemda BU akan semakin jauh dengan
status swasembada beras. Maklum, sebagian besar persawahan yang menjadi
penyumbang terbesar besar di BU gagal di musim panen terakhir tahun ini.
“Terburuk kita tidak bisa meraih status
swasembada beras karena banjir ini. Sebelumnya lantaran adanya
pembangunan irigasi yang memang terpaksa menunda musim panen atau
kehilangan musim panen,” terang Maswandi.
Namun dipastikannya kondisi gagal panen 6
desa kemarin tak sampai mengancam status kekurangan beras atau krisis
pangan di BU. Hanya saja hal ini berpengaruh dengan besarnya beras BU
yang biasanya dijual pada masyarakat hingga luar Provinsi Bengkulu.
“Kalau untuk konsumsi lokal kita tetap
cukup. Hanya yang sangat kita keluhkan adanya perekonomian petani yang
sudah mengeluarkan banyak modal untuk mempersiapkan sawahnya menjelang
musim panen,” ujar Maswandi.
Sayangnya ia mengaku tak bisa berbuat
banyak untuk membantu meringankan beban petani yang mengalami gagal
panen. Pasalnya, sejauh ini tidak ada alokasi dana yang bisa
dialokasikan untuk loaksi persawahan yang terendam bencana.
“Masalah ini akan saya laporakan secara
tertulis dengan Pak Bupati dan mudah-mudahan ada soslusi untuk
meringankan Petani, terutama dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD,red),” terang Maswandi.
Diawal tahun depan, ia berjanji akan
menyiapkan program bagi sawah-sawah warga yang rusak akibat banjir
sehingga tidak dialihfungsikan pemiliknya sebagai lokasi perkebunan.
Maklum, beberapa titik sawah justru tidak bisa digarap lagi lantaran
sudah dipenuhi oleh material batu sungai yang terbawa banjir.
“Sejauh ini kita masih melakukan
pendapatan tentang masing-masing sawah yang terendam dan kondisi sawah
sebelum terendam. Ini untuk menghitung kerugian petani secara
rupiahnya,” demikian Maswandi. (qia)
Sumber : Rakyat Bengkulu
The Comment : Semoga bencana ini segera teratasi oleh pihak yang berwenang dan kita semua diberi kesadaran dan pemahaman bahwa semua ini juga salah manusia.
