![]() |
| Jembatan Lubuk Lesung, Lais yang ambles di bagian pangkalnya sudah diperbaiki, namun belum permanen. Kendaraan harus melintas bergantian dengan berat tak lebih 10 ton. SHANDY/RB |
LAIS – Meski sudah
dibuat jembatan darurat, lokasi jalan lintas barat Kecamatan Lais
tepatnya di jebatan Desa Lubuk Lesung Bengkulu Utara (BU) masih macet di
saat tertentu terutama pagi dan sore hari. Hal ini lantaran jembatan
yang dibuat satu jalur dan kendaraan dialarang mengatre di atas
jembatan.
Namun, semua kendaraan sejak kemarin
(13/11) sudah bisa melintas kecuali truk yang diperkirakan bermuatan di
atas 10 ton. Seperti truk angkutan batubara dan batu gajah yang memang
menggunakan jalan tersebut.
Warga dan polisi bekerjasama melakukan
pengaturan lalu lintas dan meminta pengemudi terutama dari arah Ketahun
ke arah Kota Bengkulu untuk tidak mengantre di atas jembatan. Maklum,
jembatan besar yang memang memang tidak lagi menyatu dengan pangkal
jembatan dikhawatirkan bisa roboh jika terdapat banyak beban di atasnya.
Khundori warga setempat menerangkan
kemacetan pagi dan sore ini lantaran banyaknya truk-truk besar dan anak
sekolah yang melintas tiap pagi dan sorenya. Warga melarang truk-truk
berat untuk melintas lantaran saat melintas bagian jembatan darurat
selebar 2,5 M dengan tumpukan batu pecah dan besi ini nampak bergeser
setiap di lintasi truk berat.
“Kita khawatir jika jembatan ini sampai
patah dan langsung terjun ke bawah jembatan. Makanya kita minta
truk-truk untuk mengurangi muatannya lebih dulu daripada jatuh korban,”
terangnya.
Warga juga terpaksa menjaga lokasi jalan
tersebut pada malam hari lantaran sangat minim penerangan,
dikhawatirkan pengemudi yang tidak tahu lokasi rawan longsor justru
melaju dan akhirnya tercebur ke laut.
“Jalan ini sepintas sepertinya tidak
ada masalah karena semuanya masih beraspal. Tapi dibawahnya tidak ada
legi penahan karena tanahnya sudah ambles semuanya,” terang Khusdori.
Bupati Minta Bantuan ke BNPB
Disisi lain, Bupati Bengkulu Utara
(BU) kemarin memerintahkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
untuk turun menginventarisir kerugian daerah atas bencana alam banjir
bandang Senin lalu. Terutama kerusakan infrastruktur seperti jembatan
irigasi dan 1.000 haktare lebih sawah yang teredam dan dipastikan gagal
panen. “Saya minta hari ini juga (kemarin,red) BPBD melaporkan jumlah
kerugian tersebut,” terang Imron.
Imron akan melaporkan kerugian
tersebut ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus
kementerian terkait dan mengharapkan adanya bantuan. Pasalnya, bencanan
ini hampir merata menimpa masyarakat BU terutama Kecamatan Kota Arga
Makmur dan Lais. “Ini akan kita segera laporkan, jadi kita inventaris
apa saja kerugiannya dan masing-masing bidang yang menanganinya,” ujar
Imron.
Diakuinya banjir bandang Senin
lalu adalah banjir terbesar yang dialami BU dalam 10 tahun terakhir.
Apalagi banjir tersebut mengakibatkan 1.000 lebih sawah masyarakat
teredam yang berarti BU kehilangan 2.500 ton beras di musim tanam
terakhir tahun 2013 ini.
“Kita akan mencari solusinya,
termasuk sawah-sawah warga yang saat ini rusak akibat banjir. Ini adalah
musibah yang bukan hanya menimpa pemilik sawah tapi juga masyarakat BU
secara menyeluruh,” demikian Imron.(qia)
