![]() |
| Sony Taurus |
“Apapun alasannya, apakah itu mati keracunan atau sakit, BKSDA harus bertanggung jawab atas kematian gajah binaannya tersebut. Tidak bisa lepas tangan,” kata Sonny, Rabtu (13/11). Menurut Sony, upaya BKSDA untuk mengetahui kepastian matinya gajah memang penting. Namun jauh lebih penting untuk memberi sanksi bagi pihak dinilai lalai menjaga sang gajah. “Kami sangat berkeyakinan kematian gajah tersebut karena kelalaian. Agar tidak terulang kembali di kemudian hari, harus ada sanksi,” ujar Sonny.
Sonny menyayangkan sikap BKSDA yang terkesan tidak bersalah. Dan menganggap kematian gajah adalah suatu peristiwa yang biasa. Sony sangat khawatir kematian gajah yang diduga kelalaian akan terulang kembali. “Kami pikir, pemerintah daerah harus turun tangan juga menyikapi masalah ini,” kata Sonny.
Sebelumnya, Kepala BKSDA Bengkulu Anggoro Dwi Sujiarto mengakui seekor gajah betina berumur 27 tahun mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Kecamatan Bengkulu Utara. Gajah binaan BKSDA yang diberi nama Yanti tersebut mati pada Kamis (7/11). Menurut Anggoro, bangkai gajah telah selesai diotopsi dokter spesialis hewan BKSDA selama 24 jam dengan cara dibedah dan semua organ dalam tubuhnya diperiksa.
Berdasarkan hasil otopsi, diduga kematian gajah tersebut akibat keracunan. Hal-hal yang menguatkan dugaan ditemukan tanda-tanda terbakar di beberapa organ tubuh bagian dalam gajah tersebut. “Setelah dibedah, dokter menemukan beberapa organ dalam yang gosong seperti terbakar. Usus dan hatinya berwarna hitam dan berbau busuk,” kata Anggoro.
Sebelum mati, Anggoro menambahkan, gajah tersebut tidak pernah menunjukkan gejala-gejala menderita sakit. “Sehat-sehat saja, makan dan minumnya teratur dan lincah seperti gajah lainnya yang masih hidup. Saya sendiri juga merasa janggal dengan kematian Yanti,” kata Anggoro.
Kematian gajah tersebut, lanjut Anggoro, sangat aneh dan janggal. Pada lobang anus, mulut, mata dan telinga keluar darah. “Kata dokter adalah salah satu penyebab keracunan. Racun yang telah membunuh Yanti adalah racun yang sangat berbahaya dan mematikan,” ujar Anggoro.
Jumlah gajah di PLG sebelumnya sebanyak 21 ekor. Setelah kematian Yanti, tinggal 20 ekor yang terdiri dari 8 betina dan 12 pejantan. Lantas siapa yang akan bertanggung jawab bila Yanti positip mati karena keracunan? Anggoro belum bisa menjawabnya. “Kami belum tahu dan belum membahas sampai ke situ. Kami turunkan tim investigasi untuk mencari tahu penyebab kematiannya. Kalau memang keracunan tentu terlebih dahulu akan dicari tahu siapa yang telah meracuninya,” kata Anggoro. (ble/tew)
Sumber
The Comment : Sepakat, usut tuntas kematian si Gajah dan pengelola PLG Sebelat harus bertanggung jawab
